2013 Mag­i­cal Java Jour­ney

Published 4 years ago -  - 4y ago 23


Kami menyukai mata­hari pagi. Bahkan, salah satu alasan ke­napa kami melakukan trav­el­ing, adalah karena kami in­gin menikmati suasana mata­hari pagi di tem­pat terse­but.

Kami men­e­mukan ar­tikel ini dan baru menge­tahui, terny­ata kita bisa berkun­jung pada saat mata­hari ter­bit. Atau ter­be­nam. OK, tu­juan kita kali ini adalah men­galami mata­hari ter­bit di Borobudur.

Un­tuk bisa melakukan hal itu, kita harus mem­beli tiket di ho­tel Manohara. Satu-sat­unya tem­pat yang mem­berikan paket wisata spe­sial sunrise/sunset di candi Borobudur. Kita harus su­dah tiba di ho­tel pukul 4 pagi. Atau kita juga bisa meng­i­nap di ho­tel Manohara jika in­gin menghe­mat waktu dan tenaga.

Pukul 4 pagi, den­gan dibantu se­berkas sinar dari sen­ter yang kami bawa, kita ber­jalan di kege­la­pan mengikuti pe­mandu. Per­la­han tapi pasti mendekati stupa pun­cak Borobudur yang men­ju­lang tinggi di ke­jauhan.

Dingin­nya pagi per­la­han menusuk. Kabut tipis menye­limuti lapisan bukit yang men­gelilingi kami. Suasana terasa sunyi dan ten­ang. Kami dan tamu yang lain­nya berke­lil­ing den­gan khid­mat. Se­mua be­gitu ten­ang menikmati kekhusyukan pagi di Borobudur yang mem­berikan kedama­ian di hati.

Ki­cauan bu­rung seakan men­e­mani kami menyam­but datangnya men­tari pagi, yang per­la­han meng­in­tip dari ba­lik awan. Sorotan sinar emas­nya mu­lai meng­hangatkan bumi. Suasananya be­gitu ajaib dan magical.

Kami ke­mu­dian menyusuri lorong di pi­jakan bawah candi Borobudur. Men­coba mema­hami makna pa­hatan yang terukir di batu yang ter­susun sal­ing men­gunci se­jak be­rabad-abad lalu. Meskipun di be­ber­apa bagian pa­hatan­nya terasa pu­dar, na­mun kea­jaiban­nya tak lekang oleh waktu.

Kami juga berke­nalan den­gan te­man baru, Paul – wisa­tawan dari Aus­tria – yang banyak bercerita men­ge­nai pen­gala­man­nya di In­done­sia, dan bagaimana dia san­gat menyukai kein­da­han In­done­sia.

Tak lama ke­mu­dian, suasana mu­lai berta­hap ra­mai. Rom­bon­gan wisa­tawan pun mu­lai mema­dati. Teri­akan-teri­akan kek­agu­man mereka, bersendau gu­rau den­gan te­man­nya, suara TOA dari tour guide, per­tanda bagi kami un­tuk un­dur diri.


Kami ke­mu­dian meng­habiskan sisa waktu libu­ran kami den­gan berke­lil­ing Jogja. Makan di angkringan Lek Man di Tugu, menikmati malam di alun-alun kidul, bermain-main pasir di pan­tai Glagah, atau sekedar berke­lil­ing ke pasar tra­di­sional men­cari buah yang kadang tak bisa dite­mukan di jakarta.

 

 

23 recommended
comments icon 0 comments
0 notes
90 views
bookmark icon

Write a comment...

Your email address will not be published. Required fields are marked *